PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ANGGARAN PADA SETIAP TAHUNAN PEMBANGUNAN DI PARLEMEN NASIONAL TIMOR LESTE

Penulis

Luisa Albertina Fraga

Pembimbing: Dr. Nunuk Dwi Retnandari


ABSTRACT: The role of women in development continued to experience a shift in many studies and becomes increasingly important the role of women in community development either in urban or countryside needs to be improved, especially in addressing various issues of social and economic equity is directed at the result of development and human resources development. It must be admitted that the efforts of women's empowerment is not as easy as the words that glide in a variety of activities such as forums, workshops, seminars or talk show. Many constraints that shackle women's empowerment, so that efforts to raise the dignity of women to equal with men, not yet fully realized. Empowerment of women is a human rights demand. When the paradigm of development emphasized on the importance of human and humanitarian values, then inevitably the attention to the needs of women became an important agenda for the country. The importance of the role of women in development, although participation of women had an important role in the family, but only precisely the household that is most important is at the core of the community. In particular the education of the next generation is developing the largest portion being women, due to task he was guiding the child in first steps in his life. The progress of a nation or country is inseparable from the role of women, when the role of women in development is good then it will forward and good riddance to those countries, including the role of women in the national Parliament and women must also be open insight through a variety of ways, and one of them is women's participation in the legislature to debate the budget allocated to the programmers to the needs of women. Reality pointed out that the Government's efforts to enhance the role of women in development, have yet to achieve optimal results. To be able to optimally engage women's groups, as well as the role that is the quantity and quality are considered to be still low when the human resources potential, required a real effort and continuous improvement to enhance the ability of women. In many areas, the lack of participation of women in various activities during this time, more due to the existence of barriers to cultural construction comes from the social values prevailing in society. This research was conducted at the national Parliament of Timor-Leste by using descriptive and qualitative research methods. In this research the data used are the primary data and secondary data. Primary Data can be processed from the observed results, interviews, direct observation and survey researchers do. Secondary Data can be processed from the outcome document, Governments report submitted to the national Parliament, the magazine's archives and other official document used to determine women's participation in decision-making of the annual budget development. The results of this research have not been proven about the participation of women in decision making, because the annual budget development of the women's National Liberal Member of Parliament in the annual budget debate they maintain with the development idea or argument, respectively, and can be viewed by researchers more selfish in his party, although opposition parties provide input of ideas to build a coalition of parties but did not accept the idea, because their assumption of the opposition to this idea. Factors that affect women's participation in decision-making annual budget development is political culture affect political life instantly and determine national decisions concerning the pattern of allocating, therefore a political culture of human perception, the pattern of his attitude towards the various political issues and political events into the formation of structure-borne anyway and the process of political activity in the national Parliament. Women's political culture of East Timor are still lacking the strong commitment and communication of the members of the legislature to crumple to the needs of the women of Timor-Leste is not making optimal function in decisionmaking in politics, and the human resources or a member of the national Parliament, the problem is not solely at the level of formal education of its members, but especially on the level of understanding to the people (of aspiration, its needs and the problem), the level of courage to its cause proportionally as well as gain the trust of the community.

INTISARI: Peran perempuan dalam pembangunan terus mengalami pergeseran banyak studi dan menjadi semakin penting maka peran perempuan dalam pembangunan masyarakat baik di perkotaan maupun dipedesaan perlu ditingkatkan, terutama dalam menangani berbagai masalah social dan ekonomi yang diarahkan pada pemerataan hasil pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Harus diakui bahwa upaya pemberdayaan perempuan tak semudah katakata yang meluncur dalam berbagai forum kegiatan seperti seminar, lokakarya, atau talk show. Banyak kendala yang membelenggu pemberdayaan perempuan, sehingga upaya untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan agar setara dengan kaum laki-laki, belum sepenuhnya bisa terwujud. Pemberdayaan perempuan merupakan tuntutan hak asasi manusia. Ketika paradigma pembangunan ditekankan pada pentingnya manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, maka mau tidak mau perhatian terhadap kebutuhan kaum perempuan menjadi agenda penting bagi Negara. Pentingnya peran perempuan dalam partisipasi pembangunan walaupun peranan penting dari perempuan itu hanya dalam keluarga, tetapi justru rumah tangga itulah merupakan inti yang terpenting dari pada masyarakat. Khususnyapendidikan dari generasi yang sedang berkembang sebagian terbesar menjadi tugas perempuan, karena dialah yangmembimbing si anak pada langkahlangkah pertama dalam hidupnya.Kemajuan suatu bangsa atau Negara tidak terlepas dari peranan perempuan, apabila peran perempuan dalam pembangunan bagus maka akan maju dan baguslah Negara tersebut, termasuk peranan perempuan di Parlemen Nasional dan perempuan juga harus membuka wawasan melalui berbagai cara, dan salah satunya adalah partisipasi perempuan dalam legislatif untuk memperdebatkan anggaran yang dialokasikan ke program-program untuk kebutuhan perempuan. Realita menunjukkan bahwa upayapemerintah untuk meningkatkan peran serta perempuan dalam pembangunan, belum mencapai hasil yang optimal. Untuk dapat melibatkan secara optimal peran serta kelompok perempuan, yang secara kuantitas dan kualitas dianggap masih rendah padahal merupakan sumber daya manusia yang potensial, diperlukan sebuah upaya yang nyata dan berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan. Dalam berbagai bidang, kurangnya partisipasi kaum perempuan dalam berbagai kegiatan selama ini, lebih disebabkan oleh adanya hambatan cultural yang berasal dari konstruksi nilai-nilai social yang berlaku dalam masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Parlemen Nasional Timor Leste dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Didalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer ini dapat diolah dari hasil yang diamati, wawancara, observasi langsung dan survey yang dilakukan peneliti. Data sekunder dapat diolah dari hasil document, laporan pemerintah yang diajukan kepada Parlemen nasional, majalah arsip dan document resmi lainnya yang digunakan untuk mengetahui partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan anggaran tahunan pembangunan. Hasil penelitian ini belum membuktikan tentang partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan anggaran tahunan pembangunan, karena anggota parlemen nasional perempuan dalam perdebatan anggaran tahunan pembangunan mereka mempertahankan dengan idenya atau argumennya masing-masing, dan dapat dilihat oleh peneliti lebih mementingkan pada partainya, walaupun partai oposisi memberikan masukan ide untuk membangun tetapi partai koalisi tidak menerima ide tersebut, karena anggapan mereka ide ini dari partai oposisi. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan anggaran tahunan pembangunan adalah budaya politik ini langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola pengalokasian, oleh karena itu budaya politik merupakan persepsi manusia, pola sikapnya terhadap berbagai masalah politik dan peristiwa politik terbawa pula kedalam pembentukan struktur dan proses kegiatan politik di Parlemen Nasional. Budaya politik perempuan Timor Leste masih kurang kuatnya komitmen dan komunikasi para anggota legislatif untuk mengusut kebutuhan kaum perempuan Timor Leste sehingga menjadikan tidak optimalnya fungsi dalam pengambilan keputusan secara politik, dan sumber daya manusia atau anggota parlemen nasional, masalahnya bukan semata-mata pada tingkat pendidikan formal para anggotanya, tetapi terutama pada tingkat pemahamannya kepada rakyat (terhadap aspirasinya, kebutuhannya dan masalahnya), tingkat keberanian untuk memperjuangkannya secara proporsional serta memperoleh kepercayaan masyarakat.

Kata kunci Partisipasi perempuan, Timor Leste
Program Studi UGM
No Inventaris 0096-H-2012
Deskripsi xv, 148 p., bibl., ills., 29 cm.
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2012
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali