T Nur e

Evaluasi harga jual obat apotek di Kota Kendari tahun 2007

Penulis

Nur, Hasnah

Pembimbing: Dr. Sri Suryawati


ABSTRACT : Background: Medicines are very important and the most commonly used in health services. To ensure availability and affordability medicine in health service, many efforts have been done by the government to fulfill this obligatives guarding medicine price at affordable level for the people. Many studies in Indonesia revealed that the price of medicine, both generic and branded, were to high for the people to afford. Objective.The general objective of this study was to conduct evaluation on the selling price of generic medicine in pharmacies in Kendari municipalities. Methods : This is a non experimental study, cross sectional survey design, targeted to selling price of generic and branded medicine in 27 pharmacies in Kendari municipality. Quantitative data collection was conducted retrospectively from the prescription sheet and price lists. Qualitative data collection was conducted prospectively using in-depth interview. Result: This study showed that in general, generic medicine selling price was aprox 2.72 times higher than HJA Menkes 2006 (range 0.7 – 15.38). Branded medicine selling a price was aprox 14.53 times higher than HJA Menkes 2006 (range 1.24 – 76.33). Surprisingly this study also found a medicine that is cheaper (0.7 times) of HJA Menkes 2006. The selling price of the most frequently prescribed generic medicine, amoxicillin tablet 500 mg reached 3 times higher than its price in HJA Menkes 2006. Other generic medicines sold in expensive price (>5.4 times higher than its price in HJA Menkes 2006), included chlorfeniramine maleate, ciprofloxacine, ambroxol, glibenclamida metoclopramida and dexamethazone. HJA Menkes 2006 was 1.04 times or equal to MSH International selling price 2006. Private pharmacies’ selling price was determined by the pharmacist managing the pharmacy. The pharmacy’s profit was set as much as 10 – 30%. Conclusion : Generic and branded medicine selling price in private pharmacies in Kendari municipality was higher than HJA Menkes 2006, with generic medicine 2.72 times higher and branded medicine 14.53 times higher. HJA Menkes 2006 equals to MSH international selling price index 2006. The pharmacy’s profit was set as much as 10–30%. The pharmacy’s selling price was influenced by factors such as selling price from the wholeseller/distributor, pharmacy’s profit, and other operational costs.

INTISARI : Latar Belakang: Obat adalah salah satu komoditi dalam pelayanan kesehatan yang sangat penting dan paling banyak digunakan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan. Obat memakan porsi terbesar dalam pembiayaan kesehatan. Dalam rangka pemenuhan akan ketersediaan dan keterjangkauan oleh masyarakat, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menjamin hak hidup sehat termasuk menjamin keterjangkauan harga obat. Beberapa hasil penelitian di Indonesia diketahui bahwa harga obat baik obat generik maupun obat nama dagang sangat mahal. Tujuan : Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi harga jual obat apotek di kota Kendari tahun 2007. Metode: Penelitian ini non eksprimental dengan rancangan cross sectional survey, terhadap harga jual obat generik dan obat nama dagang di 27 apotek kota Kendari. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui observasi secara retrospectif terhadap lembar resep dan daftar harga, Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya harga jual obat generik 2,72x lebih mahal dari HJA Menkes 2006 (rentang 0,70 – 15,38). Harga obat nama dagang 14,53x lebih mahal dari HJA Menkes 2006 (rentang 1,24 – 76,33). Terdapat harga obat yang dijual dengan harga 0,7x dari HJA Menkes 2006. Obat generik paling sering diresepkan adalah amoksisillin 500 mg mencapai harga 3x nya. Obat generik yang termasuk mahal (>5,4x HJA Menkes) adalah klorfeniramin maleat, siprofloksasin, ambroxol, glibenklamid, metoklopramid, dan deksametazon. HJA Menkes 2006 adalah 1,04 kali atau setara dengan indikator harga obat Internasional MSH 2006. Harga jual apotek ditetapkan oleh apoteker pengelola apotek, pemilik sarana dan asisten apoteker. Profit 10-30% namun diemukan profit diatas 30%. Biaya pengobatan di sektor swasta kota Kendari menyerap dana sebesar 17 % UMR/bulan tahun 2007, 1x pengobatan (5 hari) dengan obat generik amoksisillin 500 mg menyerap dana rata-rata sebesar Rp. 7972,5 (7 %) dan obat nama dagang Rp. 34.094,- (28%) dari UMR/harian tahun 2007. Instrumen yang digunakan menunjukkan hasil yang konsisten dan validitas yang tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai tools monitoring harga. Kesimpulan: HJA obat di apotek kota Kendari lebih mahal dari HJA Menkes 2006 (obat generik 2,7x dan obat nama dagang 14,53x). HJA Menkes 2006 setara dengan IPI’s MSH 2006. Faktor yang mempengaruhi penetapan HJA adalah harga faktur, profit, dan biaya operasional. Ditemukan profit margin apotek > 30%. Biaya pengobatan di sektor swasta kota Kendari menyerap dana sebesar 13-17 % UMR/bulan untuk tahun 2007. Tools dari metode ini dapat digunakan untuk melaksanakan sistem monitoring harga obat di sektor swasta.

Kata kunci Evaluasi harga obat,Harga jual apotek,HJA Menkes 2006,Indeks harga internasional MSH
Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM
No Inventaris c.1 (0181-H-2009)
Deskripsi xii, 56 p., bibl., ills., 29 cm
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2009
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali