T Ros p

Pengaruh konflik komunal terhadap ketahanan nasional :: Kasus konflik Maluku dan konflik lainnya di Indonesia

Penulis

Rosikin

Pembimbing: Prof. Dr. Makmuri Muchlas, Ph.D.,Sp.,Kj


ABSTRACT : The research aim of the thesis is to understand and to know why the conflict in Maluku and other region in Indonesia can be happened, and also to learn what kind of factors caused the conflicts, and also to know the effect of the conflict related to the nasional resilience. As the background, why the title and research location in Maluku region and others (Aceh, Papua, Poso and Sampit) have been choosen, it is because those conflicts have a strong escalation and long lasting. The conflicts also impact the national resilience directly. In this research, the qualitative methode has been used and also using secondary data that stresses on the collecting and written textual analitycal (literature survey). The writer did not do any kind of research activities on the spots (in Maluku), but only using the literature survey focused on the final results written by the previous researchers. This research results explain, that the conflict was happened because the effect of competition in order to achieve access to the authority or power and economic sources or wealth of the actors who have personal interest. As a matter of fact, identity factor is not the independent variable that caused the conflict, but more as an interverning variable, where this variable has been brought up as the collective sentimental by the conflicting groups. For example, the conflict in Maluku was triggered by the prosperity that has not been equal amongst the native Maluku people, who most of them are christiany people, meanwhile, the new comers, mostly muslim people have quite well prosperity compared with native people. It is because the new comers have a good self determination and the survival attitude, these factors make the new comers have better sosio-economic status, relatively. Later on, some sensitive issues like religion, native people, tribes, and political aspects also play dominan contribution in enlarging the duration time and scalability of the conflict with huge destructive effects. As we may concern, conflict cases in these five regions are having the same cause, where the government has made wrong policies in order to manage good relationship with the people. Almost every policy products of the New Orde always using the centralistic approach, repressive and military power with homogen pattern. No doubt, these approaches play dominant role in creating the conflict. In Papua and Aceh conflicts, they have been caused by the economics exploitation by the government, socio-political and culture marginalization with militaristic repressive approach that ignoring human rights aspect, therefore the conflict becoming critical and lasting much longer. Meanwhile, in Maluku, Poso and Sampit, mostly the trends of conflicts were bad relationship in horizontal communities. And also, this conflict is caused by the failure of government policy in managing varieties aspect within communities in the region. As a matter of fact, communal conflict in Maluku and other regions in Indonesia, have been caused great losses not only life victims, but also destroying physical and social infrastructures within the conflict region. Therefore, for the sake of an existing nation, those conflicts more or less will become threat of the unity of our nation, such as disintegration. Most likely, violence and other destructive activities will occur suddenly, and will be followed by riots and chaos that make the security condition in the region becoming uncontrolled and unsecured. Surely, this condition will be weakening national resilience, especially the aspect of life related to social aspects (Pancagatra), such as ideology, politics, economics, social culture, defense and security. Keywords: Communal Conflict, Weakening the National Resilience.

INTISARI : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa konflik di Maluku dan konflik lainnya di Indonesia dapat terjadi, faktor apa saja yang mempengaruhi konflik-konflik tersebut, serta untuk mengetahui dampak konflik dan implikasinya terhadap ketahanan nasional. Latar belakang pemilihan judul dan obyek penelitian tentang konflik di Maluku dan konflik lainnya di Indonesia (Aceh, Papua, Poso dan Sampit), karena konflik-konflik tersebut memiliki eskalasi kuat dan berlangsung lama, sehingga dampaknya sangat besar dan berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, atau menggunakan data sekunder yang menekankan pada pengumpulan data dan analisis teks tertulis. Penulis tidak melaksanakan penelitian di daerah konflik, melainkan melalui studi kepustakaan hasil penelitian yang telah ada. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa, terjadinya konflik komunal di lima daerah tersebut, adalah akibat dari kompetisi untuk memperebutkan akses terhadap otoritas (kekuasaan) dan sumber ekonomi atau kemakmuran dari aktor-aktor yang memiliki kepentingan. Faktor identitas bukan merupakan variabel independen penyebab dari konflik yang terjadi, tetapi lebih sebagai variabel interverning yang ikut hadir, dan kemudian diangkat menjadi pembangkit sentimen kolektif oleh kelompok yang berseteru dalam konflik. Salah satu contoh bahwa terjadinya konflik di Maluku dan Poso substansinya adalah karena tidak meratanya kesejahteraan yang dirasakan sebagian penduduk asli yang kebetulan mayoritas beragama Kristen, namun di lain pihak kaum pendatang yang beragama Islam memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih, karena keuletan dan sikap survive mereka sehingga lebih maju dalam status sosial ekonomi, yang menimbulkan kecemburuan. Kemudian dalam perkembangannya, konflik ini dikaitkan dengan sentimen suku dan agama, serta adanya sentuhan politik, sehingga terciptalah konflik Sara dengan eskalasi yang besar dan durasi yang cukup lama, sehingga menimbulkan efek destruktif yang sangat besar. Selain itu kasus konflik di lima wilayah tersebut, memiliki penyebab yang sama yaitu adanya kebijakan pemerintah yang keliru dalam mengelola hubungan dengan masyarakat. Hampir seluruh kebijakan pemerintahan Orde Baru selalu mengedepankan pendekatan yang sentralistik, refresif dan militeristik serta pola homogenitas, yang semuanya memegang peranan penting dalam menciptakan terjadinya konflik. Dalam kasus konflik Aceh dan Papua eksploitasi ekonomi oleh Negara, marginalisasi politik dan kultur/budaya serta pendekatan represif militeristik yang mengabaikan aspek perlindungan HAM, sehingga konflik menjadi kronis dan berlangsung dalam durasi yang cukup lama. Sedangkan pada kasus konflik Maluku, Poso dan Sampit kecenderungan yang banyak ditonjolkan adalah hubungan horizontal yang tidak harmonis antar komunitas dalam masyarakat. Akan tetapi sesungguhnya konflik inipun disebabkan oleh kegagalan negara dalam mengelola keragaman yang ada dalam masyarakat. Konflik komunal di Maluku dan konflik lainnya di Indonesia menimbulkan dampak yang sangat besar, antara lain korban jiwa, harta benda, dan hancurnya infrastruktur fisik dan sosial di wilayah konflik tersebut. Bila ditinjau dari eksistensi sebuah negara, maka konflik-konflik tersebut tentunya akan menjadi sebuah ancaman bagi keutuhan NKRI, yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Setiap saat muncul tindakan kekerasan, yang menimbulkan kondisi wilayah Maluku dan wilayah konflik lainnya menjadi chaos dan rusuh, sehingga keamanan wilayah tersebut tidak kondusif dan tidak terkendali. Kondisi tersebut tentunya akan melemahkan/menurunkan kondisi ketahanan nasional, khususnya pada aspek kehidupan yang berkaitan dengan aspek sosial (Pancagatra), yaitu aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Kata kunci : Konflik komunal, melemahkan ketahanan nasional. ix

Kata kunci Konflik komunal,Melemahkan ketahanan nasional
Program Studi S2 Ketahanan Nasional UGM
No Inventaris c.1 (4296-H-2008)
Deskripsi x, 163 p., bibl., ills., 29 cm
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2008
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali